Apa Kabar, Hujan?

A

Hai, Hujan. Bagaimana kabarmu? Beberapa hari dalam setiap bulan kau menghampiri kerumunan makhluk hidup dengan sekumpulan tetesan air yang kau guyurkan. Sayangnya, aku harus katakan ini padamu. Tak semua makhluk merindukanmu layaknya seorang perantau jauh yang membawa banyak berkah. Atau orang terkasih yang kembali setelah koma selama 6 bulan.

Bukti konkrit yang bisa kau perhatikan adalah sebagian besar makhluk akan berlindung di bawah pohon, kanopi, teras orang tak dikenal, atau di dalam restoran. Mereka menganggapmu selayaknya pasukan bersenjata yang sedang menyerbu koloni musuh secara simultan. Iya itulah impresi umum untukmu.

Ada pula yang mengharapkan kehadiranmu. Tapi, tidak seutuhnya kehadiranmu. Mereka hanya mengharapkan manfaatmu saja. Ia sejauh itu saja. Ketika mereka sudah mendapatkannya, bersyukur adalah hal terakhir yang akan jadi komentar akan hadirmu. Yang menharapkanmu tetap saja berlindung di dalam rumahnya dengan seduhan teh hangat bersama keluarganya. Iya, kau diharapkan tapi tak diinginkan.

Selain itu, mereka yang mengharapkanmu tak pernah menyambutmu dengan bersenang-senang di bawahmu. Hanya populasi di bawah umur 10 tahun yang tak dapat larangan dari para dewasa senang menikmati akan hadirmu. Berlari kesana kemari bahkan menatapmu dengan mata terpejam seolah-olah mereka memeluk mesra yang mereka sayangi.

Mereka yang tak mau bersenang-senang di bawahmu takut akan hal-hal yang belum tentu terjadi padanya. Ialah sakit yang mereka maksud. Asumsi mereka didasari akan hukum sebab-akibat yang apabila mereka bersenang-senang di bawah hujan, sakit adalah efek samping yang menjadi konsekuensinya. Padahal, tidak selalu. Bisa saja pada saat itu juga metabolisme manusia asumtif ini sedang dalam keadaan lemah dan beraktifitas super aktif adalah yang tak baik pada saat itu.

Sejauh ini, kau hanya seperti sandaran bagi orang yang sedang bersedih. Ketika kesedihan itu musnah, kau akan dicampakkan layaknya sampah kota. Atau orang ketiga ketika seorang pasangan sedang bersitegang. Kau hanya dimanfaatkan disaat satu atau dua orang butuh kenyamanan. Ketika masalah itu selesai, kau adalah hal ke 1993 yang akan di hubungi kembali.

Selain itu, tak sedikit pula yang menyalahkanmu atas tragedi yang dialami manusia. Kecelakaan, macet, dan beberapa alasan bullshit yang dilontarkan padamu. Iya, kaulah yang dianggap sebagai penyebab utama kecelakaan. Kau menyebabkan jalanan basah hingga licin sehingga tak layak pakai. Manusia juga menyalahkanmu ketika macet terjadi disaat kau ingin menyapa sekumpulan manusia. “Ah hujan, pasti bakal macet ini.” Pasti kau pernah mendengar ungkapan ini atau sejenisnya.

Lebih konyol lagi, banjir. Karenamu, menurut mereka, volume air tiba-tiba meningkat dan menggenang di areal yang disukai manusia entah untuk sekedar bermain dengan teman sebaya atau bertegur sapa dengan tetangga. Banjir ini juga membuat mereka mengutukmu untuk tak datang kembali sampai genangan air itu kembali stabil.

Ah, terkadang aku paham kenapa kau tak datang setiap hari. Di area tropis kau hanya datang satu semester. Itupun kau kadang sekedar menggoda atau test the water. Kau coba beberapa detik untuk mengguyurkan beberapa tetes hanya untuk mengambil hipotesis apakah kau diharapkan atau tidak. Kau semacam punya statistik atau data scientist di belakangmu untuk memberimu pendukung keputusan apakah kau harus berlanjut atau tidak.

Aku juga sedikit paham kenapa kau mengajak kawan lamamu untuk hadir di depan manusia kerdil yang sok kuasa. Petir adalah kawan dekatmu. Bila kau datang bersamanya, manusia hanya diam membisu tak tahu harus bertindak apa. Aku juga sedikit paham kenapa engkau sengaja mengulur waktumu hingga 12 jam atau sehari semalam untuk berbagi berkah dengan makhluk hidup.

Aku masih heran kenapa kau bisa sesabar itu. Dari sekian opini negatif tentangmu, kau sering menghadirkan pelangi setelah kepergianmu. Padahal, pelangi tak akan indah kalau kau tak hadir terlebih dahulu. Embun yang menetes perlahan dari daun tak akan menjadi objek fotografi. Hanya sebuah daun kering yang tak tersentuh oleh basahnya hujan.

Sepertinya nilai cintamu pada makhluk hidup ini berupa konstanta dalam matematika. Tak akan pernah berubah, apalagi menurun. Aku kagum akan hal ini yang ada dalam dirimu.

Kutekankan sekali lagi, aku kagum padamu. Entah ini kau anggap sebagai suatu hal sarkastik atau pujian, itu pilihanmu. Yang jelas, aku adalah salah satu penikmat aroma hujan ketika guyuran air dari langit itu berdenting di atas genting atau menyusup ke dalam pori-pori tanah. Aku berterima kasih sekali. Berkatmu, manusia tak perlu menyiram 400 meter lahan parkir agar dalam keadaan sejuk. Kau juga membantu pepohonan di hutan untuk menikmati tegukan air dari atas ketika air dibawah mereka tak mengalir dengan sempurna.

Terima kasih, Hujan.

About the author

Mochamad Gufron

Hello, nice to meet you. I'm an active software engineer who love to learn a lot of things. I'm also in love at writing some blog entries. Get in touch with me on email if you need anything.

Email: mgufronefendi@gmail.com

By Mochamad Gufron

Recent Posts

Recent Comments

Archives

Categories

Meta

Mochamad Gufron

Hello, nice to meet you. I'm an active software engineer who love to learn a lot of things. I'm also in love at writing some blog entries. Get in touch with me on email if you need anything.

Email: mgufronefendi@gmail.com