Trust Issue

T

Belum ada padanan frasa dalam Bahasa Indonesia yang dapat mewakili keutuhan arti trust issue. Frasa ini muncul tentu karena suatu hal (damn it, Sherlock. Of course it is). Trust issue ini semacam lubang yang kita gali sendiri dan ada janji orang lain untuk menutup galian tersebut. Well, some people can’t fulfill their promises. Jadi, ia tetap menjadi lubang kosong yang semakin lama semakin dalam.

Lubang itu tak akan pernah terlihat. Ketika seseorang memiliki banyak lubang janji ini, ia adalah orang yang sudah kebal dengan janji. Ya kebal dalam arti sudah tak mengharapkan apapun dari janji itu. Karena lubang-lubang ini punya pola, seseorang pun bisa mengambil kesimpulan apakah janji yang baru saja terdengar ini layak dipegang. Jika tidak, sama saja dengan memegang belut. Licin.

Apakah bisa lubang itu tertutup? Well, mungkin kita butuh engineer perasaan selayaknya engineer Jepang yang mampu mengubah rusaknya jalan akibat gempa dahsyat dalam waktu 2-7 hari saja. It’s possible, but you know, it’s difficult. Mau dibuat Agile dengan Scrum? Dude, this is feeling, not some kind of logic that you can do in parallel or sequential mode.

Lalu bagaimana kita seharusnya menghadapi ini? I don’t have a solution but I do have a way to deal with it. Hanya dengarkan saja tapi tak perlu dihiraukan secara berlebih atau serius. Be optimistic. Jika kamu janjian bertemu dengan seseorang lalu orang itu tak mampu memenuhinya karena ada suatu hal yang lebih penting, ya anggap aja kamu tidak penting atau kamu bukanlah prioritas baginya. Simple enough, right?

Tidak perlu memikirkan dalam-dalam dan panjang. You have your own world. You have something better to do than just mumbling why he/she can’t come. Just enjoy your moment. Jika seseorang mampu menepati janjinya padamu, you’re on their list. Sebaliknya, kamu bisa mengubah urutan orang yang layak kamu percayai sekali lagi.

Solusi lain? Dude, you’re dealing with fu**g human race. It will come back and forth to you. Santai saja dan tenang. Rule of thumb: jika orang yang berjanji denganmu tak dapat memenuhinya, simply karena kamu tidak dalam prioritasnya dan tidak perlu mengeluh soal ini. Sound rough, right? Ya, realitas itu memang jahat bagi orang-orang yang delusif dan terlalu optimis.

About the author

Mochamad Gufron

Hello, nice to meet you. I'm an active software engineer who love to learn a lot of things. I'm also in love at writing some blog entries. Get in touch with me on email if you need anything.

Email: mgufronefendi@gmail.com

By Mochamad Gufron

Recent Posts

Recent Comments

Archives

Categories

Meta

Mochamad Gufron

Hello, nice to meet you. I'm an active software engineer who love to learn a lot of things. I'm also in love at writing some blog entries. Get in touch with me on email if you need anything.

Email: mgufronefendi@gmail.com