Memijakkan Kaki di Kota Kembang

M

Bandung. Sebuah kota yang punya banyak julukan. Bandung Lautan Api adalah julukan historis yang melekat karena ada momentum yang luar biasa kala masa perjuangan. Parisnya Indonesia, seingat saya, juga menjadi julukan lain ibu kota Jawa Barat ini. Dan yang terakhir adalah Kota Kembang. Entah ini yang dimaksud secara harfiah, yang mana Bandung punya banyak bunga dari segi kuantitas, atau banyaknya kembang desa yang hidup dalam satu kota yang pernah jadi tempat konferensi Asia-Afrika.

Januari adalah bulan dimana saya berangkat bersama rekan satu tim Refactory. Saya bersama tim memijakkan kaki disana sembari mencari talenta-talenta yang ingin berkembang lebih jauh dalam bidang pemrograman. Ya itulah salah satu tujuan Refactory didirikan.

6 Bulan tinggal di tempat ini rasanya saya bisa memberikan sedikit impresi subyektif terhadapnya. Ya, well kota ini masih mengingatkan saya akan Malang. Bahkan saya sendiri sempat menyebut ini “Malang-nya” Jawa Barat. No offence, tapi ini adalah salah satu cara manusia mengasosiasikan suatu hal yang baru ke dalam ingatan memory-nya.

Suasana sejuk, rindang, dan sedikit metropolitan adalah ciri khas dari kota ini yang saya ketahui. Anda bisa menemui pohon-pohon dan taman-taman beserta bangunan arsitektural tinggi yang menjulang ke langit atau sebut saja apartemen. Tak setinggi kota Jakarta atau bahkan San Fransisco, tapi kombinasi ini sungguh unik untuk memberikan nuansa yang nyaman untuk disinggahi.

Nyaman untuk disinggahi merupakan ladang gula bagi manusia-manusia duniawi yang ingin lari dari peliknya kehidupan ibu kota. Banyak mobil ber-plat B mondar-mandir ke kota ini. Terutama di akhir pekan. Para pencari rezeki ini setidaknya musti merelakan waktunya untuk berada di jalan raya diatas 120 KM beserta kebiasaan mereka, kontribusi dalam macet.

Plat D dan Plat B pun bersinergi menghiasi kota kembang. Sinergi itu terkadang tak membuat kota ini kondusif untuk para kost-er dan kontrak-er untuk sekedar berkeliling kota melihat hasil kerja para pekerja taman dan tata kota di Bandung. Maka dari itu, saya belum begitu mengenal secara intim seluk beluk dari kota Bandung. Yah itu atau pekerjaan yang sudah meminta jatah waktu yang sangat besar. 😀

Makanan? Pasokan dari kantor berupa masakan khas Surabaya dan masakan spesial dari Ibu belum bisa membuat saya berkomentar banyak terhadap makanan. Seblak sering muncul dalam daftar GoFood karena banyak penjualnya. Tapi saya masih memilih martabak asin (atau martabak saja di kota kelahiran saya) atau martabak khas Italia, banyak orang menyebutnya pizza, yang juga masuk sebagai kontributor makanan teratas.

Orang-orang disini, rasanya cukup ramah. Well, saya tidak begitu sering berkomunikasi intens terhadap orang lain, sekalipun saya ada di kota kelahiran saya sendiri. Tipikal introvert adalah herbivora dalam komunikasi. Saya tak begitu reaktif kalau tak ada pemangsa yang datang untuk menginisiasi pembicaraan.

Berjodoh dengan orang sini? Bluntly speaking, secara kemasan memang tampak menarik dan indah, but no, I have my own criteria. I think I’m off their list, so yeah I should focus on my career first, actually. Haha.

Bandung adalah kota kedua yang jauh dari Sidoarjo sebagai tempat mencari nafkah. Dan saya rasa, banyak potensi yang bisa saya dapatkan dan maksimalkan dari kota Bandung ini.

Please be nice to me, Bandung.

About the author

Mochamad Gufron

Hello, nice to meet you. I'm an active software engineer who love to learn a lot of things. I'm also in love at writing some blog entries. Get in touch with me on email if you need anything.

Email: mgufronefendi@gmail.com

By Mochamad Gufron

Recent Posts

Recent Comments

Archives

Categories

Meta

Mochamad Gufron

Hello, nice to meet you. I'm an active software engineer who love to learn a lot of things. I'm also in love at writing some blog entries. Get in touch with me on email if you need anything.

Email: mgufronefendi@gmail.com